Friday, April 01, 2011

Mozilla Firefox Web Apps

Sesaat sebelum merilis versi final dari Firefox 4, para pengembang Mozilla telah memperkenalkan proyek bernama "Web Apps". Aplikasi ini diharapkan dapat memainkan peran utama dalam masa depan browser Firefox. Dengan Web Apps web browser tidak hanya berfungsi sebagai aplikasi untuk melihat halaman web, namun juga menjadi suatu platform untuk menginstalasi aplikasi secara lokal. Spesifikasi ini juga memuat daftar struktur dan isi dari aplikasi, sehingga cukup digunakan untuk mengembangkan aplikasi. Aplikasi yang dibuat juga dapat berbagi sumber daya dan akan menggunakan spesifikasi HTML5 untuk offline cache dari sumber dayanya yang mana cara ini biasa digunakan oleh aplikasi cache.

Adapun untuk prosedur instalasi Web Apps, selain pengguna dapat melakukan instalasi melalui prosedur normal instalasi Web Apps yang biasa di lakukan seperti menginstalasi AddOn, namun Mozilla juga menyediakan JavaScript functions. User Agent akan melakukan instalasi aplikasi, menjalankannya, dan memberi sejumlah tambahan hak akses. Mozilla juga sedang membuat eksperimen Web Apps extensions yang dapat berjalan dengan baik pada web browser Firefox 4 Beta dan Google Chrome bagi kemudahan pengguna. https://apps.mozillalabs.com/.

Sumber : Majalah InfoLINUX 04/2011

SUSE Manager

Novell, perusahaan yang berada dibalik suksesnya SUSE Linux Enterprise Server, telah mengumumkan rilis dari SUSE Manager. Selain mendukung platform SUSE Linux Enterprise Server (SLES), SUSE Manager juga dapat berjalan pada distro Linux yang lain seperti Red Hat Enterprise Linux (RHEL).

Markus Rex, Novell VP and GM of Open Platform Solutions, mengatakan kalau SUSE Manager merupakan sebuah langkah besar dalam kematangan sebuah perusahaan Linux. Dengan menyediakan integrasi lengkap dan dapat berjalari pada sejumlah distro, SUSE Manager memungkinkan pengembangan Linux dalam mencapai tingkat yang baru.

SUSE Manager dibuat berbasiskan Spacewalk, solusi manajemen sistem bersifat free untuk platform Linux dan menawarkan kemampuan sistem provisioning dan monitoring, seperti update dan manajemen aset. Tool ini juga memiliki fitur untuk mendukung manajemen paket Zypp, yang menyediakan kecepatan dan efisiensi dari proses update Linux. Informasi lebih lanjut mengenai Novell SUSE Manager dapat ditemukan lengkap pada alamat situs http://www.novell.com/products/suse-manager.

Sumber : Majalah InfoLINUX 04/2011

Perubahan Distribusi dari Kernel RHEL

Red Hat, salah satu vendor distro terbesar di dunia open source, telah merubah kebijakan cara distribusi kernel pada RHEL. CTO Red Hat, Brian Stevens, membuat pernyataan mengenai perubahan cara distribusi kernel Red Hat ini di blog Red Hat. Menurut Brian, Red Hat telah merubah kebijakan distribusi kernel Linux yang terdapat pada distro RHEL. Kernel Linux pada RHEL merupakan komponen kunci dari Red Hat Enterprise Linux (RHEL). Sebelumnya, kernel RHEL didistribusikan sebagai sebuah kernel standar beserta patch yang perlu diterapkan untuk menjadi versi Red Hat Enterprise Linux. Namun mulai RHEL 6, distribusi kernel RHEL kini berubah menjadi sebuah file arsip dengan patch yang belum diterapkan dan rincian patch yang dibuat tidak dijelaskan secara eksplisit.

Menurut Steven, perubahan ini dilakukan karena kompetitor Red Hat di pasar Linux Enterprise telah mengubah pendekatan mereka, yang mana mereka juga menawarkan layanan dukungan seperti pada RHEL. Dengan diubahnya pola distribusi kernel RHEL, pihak Red Hat dapat mengandalkan dukungan melalui layanan subscription.

Meski terjadi pola distribusi kernel Linux, Stevens menegaskan kembali komitmen Red Hat untuk membuka pengembangan kode sumber. Selain itu, Red Hat juga mencatat kalau pihak perusahaan maupun pesaing Red Hat, telah mengambil banyak manfaat dari pendekatan model ini sehingga Red Hat akan terus memberikan kontribusi patch kernel. Red Hat percaya kalau model pengembangan berbasis open source adalah model pengembangan terbaik untuk menghasilkan software terbaik, sehingga Red Hat akan terus meningkatkan sumber daya yang diinvestasikan untuk perkembangan software terbuka. Stevens juga menambahkan kalau bisnis perusahaan Red Hat bukan bicara tentang "bit", tetapi layanan kepada pelanggan.

Sumber : Majalah InfoLINUX 04/2011

Scientific Linux 6.0

Para pengembang Scienific Linux telah merilis versi 6.0 dari distribusi Linux buatan mereka yang ditujukan untuk sistem x86-32 dan x86-64. Dikembangkan oleh Fermilab, CERN dan sejumlah universitas dan lembaga riset, proyek Scientific Linux menyediakan model gratis dari RedHat Enterprise Linux (RHEL). Sejumlah komponen yang dilindungi dan sejenisnya pun, sudah dihilangkan terlebih dahulu dari sumber kode RHEL. Beragam paket yang disertakan dalam Scientific Linux telah dikompilasi ulang untuk memastikan semua paket yang termasuk dalam RHEL 6.0 dapat bekerja dengan baik di Scientific Linux 6.0.

Scientific Linux merilis lebih cepat dibandingkan dengan distro CentOS yang baru merilis versi 4.9. Scientific Linux 6.0 juga menawarkan sejumlah perubahan dan tambahan paket dibandingkan dengan distro CentOS. Meski demikian, baik distro CentOS maupun Scientific Linux menjanjikan kompabilitas penuh. Untuk menambah fungsionalitas, repositori Scientific Linux dapat merujuk ke repositori Extra Packages for Enterprise Linux. Bagi yang ingin mencoba, file iso Scientific 6.0 dapat diunduh pada url http://www.scienficlinux.org/download.

Sumber : Majalah InfoLINUX 04/2011

Debian Memenangi Dua Kategori di LNM Awards 2011

Pada penyelenggaraan Linux New Media Awards yang diselenggarakan pada pameran CeBIT belum lama ini di Jerman, distro Debian memenangi dua dari tujuh kategori. Salah satu distro komunitas tertua ini di LNM Awards 2011 memenangi kategori "Best Open Source Server Distribution" dan "Outstanding Contribution to Open Source/Linux/Free Software".

Karsten Gerloff, President of the Free Software Foundation Europe, saat mempresentasikan penghargaan kepada pihak Debian, mengatakan kalau pada distro Debian, kualitas merupakan fokus dari semua yang diinginkan oleh pengguna. Namun semua yang bekerja pada sistem Debian mengetahui dengan baik kalau software yang baik tidak akan ada artinya jika tidak bersifat bebas. Dengan rilis versi terbaru dari Debian, yakni Debian 6.0 (Squeeze), Debian telah mengambil langkah penting dalam menyajikan kernel yang benar-benar bersifat free, tanpa ada tambahan file biner.

Pada penyelenggaraan LNM Awards sebelumnya, semua pemenang kategori dipilih oleh dewan juri yang terdiri atas redaksi, pengajar dan ahli industri dalam bidang open source. Namun pada tahun ini, untuk kali pertama para pemenang LNM Awards terpilih melalui pemilihan suara secara online dari komunitas pada umumnya untuk kategori Distribusi Linux Favori.

Dari postingan yang terdapat pada situs Debian (http://www.debian.org/News/2011/20110304) pihak Debian sangat bangga kalau ahun ini mereka dapat memenangi dua kategori sekaligus pada penyelenggaraan LNM Awards 2011. Pada penyelenggaraan LNM Award 2010, Debian juga mendapat penghargaan sebagai pemenang kedua dalam kategori "Outstanding contributions in the field of free software and Linux".

Sumber : Majalah InfoLINUX 04/2011

Thursday, March 31, 2011

Perbandingan Canon EOS 450D dan EOS 550D

Saat ini Canon EOS 450D baru sudah sulit didapatkan di pasaran. Bagi Anda yang berencana untuk meng-upgrade 450D dengan 550D, Anda bisa melihat hal-hal sebagai berikut: Penggunaan kontrol dasar masih tetap sama sehingga pemilik 450D cepat beradaptasi dengan 550D. Tentu ada perubahan kecil seperti tombol dan tuas yang secara ergonomis telah didisain untuk memudahkan penggunaan.
Fitur Baru

Yang tidak dimiliki 450D adalah fitur movie clip. 550D tidak hanya sekedar merekam video, tetapi dapat merekam video dengan kualitas baik. Format HD tersedia dalam beragam pilihan: 1920 x 1080 (HD 30/25/24 fps), 1280 x 720 (HD 60/50 fps), 640 x 480 (60/50 fps).

Selain itu, yang lebih mencolok adalah jumlah peningkatan pixel CMOS sensor. 550D memiliki sensor sebesar 18 mega pixel, sedangkan fotografer yang menggunakan 450D harus puas dengan sensor sebesar 12.2 mega pixel. Demikian pula tingkat sensitivitas ISO. 450D memiliki ISO 100 hingga 1600. Sedangkan 550D memiliki ISO hingga 12800 (mungkin tergantung lensanya?). Untuk layar LCD, kedua kamera memiliki layar dengan ukuran yang sama, 3 inchi. Namun, 550D memiliki tampilan lebih baik karena memiliki layar dengan resolusi 1.040.000 pixel, sedangkan resolusi layar 450D besarnya 230.000 pixel saja. 550D memberikan alasan kuat bagi mereka yang hendak meng-upgrade 450D.

Keunggulan 550D adalah
  1. Jumlah mega pixel
  2. Tampilan LCD
  3. Fungsi video
  4. ISO tinggi
  5. Noise rendah
Biaya untuk upgrade:
Harga 550D +/- : Rp 6.700.000,-
Harga 450D second +/- : Rp 3.700.000,-
Investasi +/- : Rp 3.000.000,-

Sumber harga lain :
Canon EOS 550D body : Rp 5.878.000,-
Canon EOS 550D kit (include EF-S 18-135 mm f/3.5-5.6 IS) : Rp 8.499.000,-
Canon EF-S 18-135 mm f/3.5-5.6 IS : Rp 3.764.000,-


Wednesday, March 23, 2011

Kenapa harus takut PLTN?

Saat ini kalau bertemu orang, nadanya sama bahwa PLTN itu berbahaya. Upaya untuk memiliki PLTN, bukan saja ditinjau lagi, namun perlu diurungkan. Sikap takut kemudian membuat menjadi mundur memang manusiawi. Untungnya tidak semua orang memiliki sifat itu. Yang repot jika sifat itu dimiliki para pemimpin, ulama dan cerdik pandai, yang dipimpinnya bisa jadi akan ikut saja.
Jika takut radiasi, PLTN ditolak. Bagaimana dengan sumber bahaya lain yang dapat merengggut jiwa manusia. Ada banyak sumber petaka di negeri ini, mungkin dinegara lain tidak terjadi. Sumebr petaka itu bisa berasal dari pantai, gunung berapi, sepeda motor, bis, kereta, hingga pesawat terbang. Kalau semua sumber petaka ini harus dihindari, dapat dibayangkan bagaimana kita harus hidup. Hidup tanpa sepeda, mobil, bis, kereta api, ferry, pesawat terbang. Hidup jauh dari gunung berapi dan pantai yang agak susah mengingat lahan di kawasan tertentu memang terbatas.

Cobalah bersahabat dengan resiko, barangkali resiko bisa diminimalkan tanpa harus membuang elemen yang beresiko. Bisa jadi elemen tersebut banyak menguntungkan. Jika kemudian ada resiko, itu wajar saja. Bagi umat muslim, wajib percaya atau beriman kepada takdir baik dan takdir buruk datangnya dari Allah SWT. Entah bagi orang yang tidak beraga atau tidak memahami agama.

Jika karena resiko kita harus mundur, bisa jadi tidak ada satupun orang yang mau menjadi tentara atau petugas keamanan. Karena posisi tersebut selalu berdampingan dengan resiko, bahkan resiko kematian. Tak ada lagi olahragawan terjun payung, gantole, terbang layang, arung jeram, dsb.

Sudahlah, gak usah terlalu takut. Toh masih ada Tuhan di atas sana yang akan melindungi dan menolong kita dari segala mara bahaya. Biarkan Tuhan yang menentukan siapa yang mendapatkan takdir baik dan siapa yang mendapatkan takdir buruk. We just try, not refuse.

Hanya bravemen yang memiliki masa depan cerah dengan segala resiko yang harus dilaluinya. Hidup ini sebenarnya sudah resiko. Haruskan diakhiri hidup ini? no way men... life must go on

Bersyukurlah masih ada para pemberani, sehingga kita semua terbebas dari penjajahan. Jika Anda takut tak perlu disebarkan kepada orang lain. Simpan untuk diri sendiri saja.

Tuesday, March 22, 2011

Peralatan Uji Jaringan Komputer

Untuk mempermudah dan mempercepat diagnose kerusakan pada jaringan komputer dibutuhkan berbagai alat bantu, bisa berbentuk perangkat lunak, bisa juga berbentuk peralatan. Dengan adanya peralatan atau instrumen, kegagalan dapat diketahui secara lebih akurat, tidak hanya sekedar menggunakan feeling belaka. Peralatan dapat berbentuk hand held dan dapat berbentuk portable. Yang penting alat mudah dibawa kemana-mana dengan batere yang tahan lama, misal hingga 8 jam, bila perlu seharian kerja. Instrumen yang mungkin Anda perlukan untuk mengetahui kerusakan atau penurunan kinerja jaringan komputer antara lain :
  1. DTX CableAnalyzer™ Series
  2. EtherScope™ Series II Network Assistant
  3. LinkRunner™ Pro & Duo Network Multimeter
  4. CableIQ™ Qualification Tester
  5. NetTool™ Series II Inline Network Tester
  6. OptiView® Portable Network Analyzer
  7. AirCheck™ Wi-Fi Tester
  8. AirMagnet WiFi Analyzer
  9. AirMagnet Spectrum Analyzer
  10. AirMagnet Planner

DTX CableAnalyzer™ Series

The DTX CableAnalyzer Series from Fluke Networks is the testing platform for today and tomorrow. This revolutionary new future-proof platform significantly reduces total time to certify by improving every aspect of the testing process.

It starts with 9-second Cat 6 Autotest. That means you can meet TIA-568-C and ISO 11801:2002 certification requirements and receive structured cabling warranties faster than ever before. With all this speed also comes the highest accuracy as the DTX is the only tester to use a standards-compliant, electrically-centered permanent link test adapter. Furthermore, the DTX-1800 truly delivers on the promise of a futureproofing investment by measuring 10 Gig cable performance and Alien Crosstalk (ANEXT and AFEXT) in full compliance with the industry standards to 500 MHz. The AC Wiremap feature validates for Power over Ethernet services in accordance with TIA/EIA standards, even if a Midspan power supply is used. With over 40,000 units in use today, the DTX Series, is clearly the industry’s choice as the most trusted cable certifier.

Price Fluke Networks DTX-1800 CABLE ANALYZER = $ 7,979.80. FOB Jakarta : US$13.500


EtherScope™ Series II Network Assistant

The handheld EtherScope analyzer assists network professionals with installation, validation and troubleshooting of Gigabit LANs and 802.11 wireless LANs. Install and integrate infrastructure easily by testing, verifying and fixing configuration issues during deployment. Validate network performance and service delivery by measuring key performance attributes and the availability and responsiveness of essential resources.

Diagnosis LAN health with one click. Close trouble tickets fast with guided drill-downs to the root cause. Audit the performance of the network on a regular, periodic basis to identify and correct emerging issues. The EtherScope Network Assistant makes testing is so simple practically anyone can troubleshoot problems instantly.

Price of Fluke Networks ES2-LAN-SX/I-LRD mainframe with LAN, RFC2544/ITO, SX Fiber, and LinkRunner DUO mainframe with Reflector = $8,551.35. FOB Jakarta : US$ 10.000

LinkRunner™ Pro & Duo Network Multimeter

Today’s connectivity problems are more complex than ever. Users demand Gigabit connectivity. IT departments enforce stronger standards like 802.1X. And technologies like VoIP and WLAN have given rise to a greater reliance on PoE for power.

The LinkRunner Pro and Duo recognize this, and empower technicians to address today’s challenges with powerful new features and reporting capabilities. And, following the tradition of the original LinkRunner, they are designed for simplicity and ease-of-use to ensure rapid deployment and concise answers.

Vision to resolve a broader range of today’s link connectivity problems. That’s Network SuperVision.™ That’s Fluke Networks’ promise to you.

Price of LinkRunner Duo Carrier Ethernet Tester Including Reflector & Li-Ion = $1895.00 atau Rp 16.000.000,-

CableIQ™ Qualification Tester

CableIQ is the first cabling bandwidth tester for network technicians. It gives even the most novice tech the vision to see what speeds existing cabling can support, quickly isolate cabling from network problems, and discover what is at the far end of any cable. That means network techs can close trouble tickets faster, reduce on-call time, and save money by better utilizing their existing infrastructure.

CableIQ's powerful troubleshooting capability and intuitive interface enable your frontline technicians to identify and troubleshoot a wider range of problems within your infrastructure. Is the port active? Are the duplex settings matched? Is it a network problem or a cable problem? Can the cable support the required network bandwidth? CableIQ is the only tool that can answer all these questions before trouble tickets are escalated to the next level reducing problem escalation by up to 30%.

Price of Fluke Networks CIQ-100 CableIQ Qualification Tester = $930.75 atau Rp 17.000.000,-

NetTool™ Series II Inline Network Tester

Troubleshooting network connectivity problems can be a daunting and time-consuming task. Without the right tool, network techs can spend hours of unnecessary time with trial and error guesswork trying to isolate the problem.

Fluke Networks has put an end to the guessing game with the NetTool Series II Inline Network Tester. NetTool combines powerful NetProve diagnostics, inline Gigabit vision, VoIP Phone PC configuration testing in one palm-sized tool, so you'll have everything you need to quickly resolve even the toughest connectivity problem. Plus, with the monitoring and authentication option, you'll have the power to identify port-based security threats and maintain user connectivity in 802.1x environments.

Since no two networks are identical, Fluke Networks offers several NetTool models and options to match your individual requirements and to maximize the value of your NetTool investment. From our top-of-the-line NetTool Series II Network Service Kit to the entry-level NetTool 10/100, you will find a NetTool model that fits your network troubleshooting needs and your budget.

Price of Fluke Networks NTS2-PRO NETTOOL Series II Pro = $2,320.35. FOB Jakarta US$ 4,000.00

OptiView® Portable Network Analyzer

The OptiView Network Analyzer is like having a “virtual network engineer” with its advanced network analysis features, built-in expert advice and all-in-one capability for analysis, troubleshooting, monitoring, trending and alerting – you can manage the core, remote sites or critical network points with a single tool.

OptiView Portable Network Analyzer can help you:
  • Resolve network performance issues in real-time using vendor-independent infrastructure analysis, on-the-wire traffic analysis, and full-line rate packet capture/decode.
  • Solve tough problems – even if you’re not a packet decode geek – through application-centric protocol analysis that provides guidance, not just data.
  • Deploy, secure and troubleshoot wireless LANs.
  • Optimize network equipment to minimize outages and degradations.
  • Eliminate unwanted applications and enforce traffic and bandwidth policies through deep traffic analysis.
  • Assess, verify and prove network readiness for new applications, new technologies and infrastructure deployment.
  • Perform routine audits to identify regulatory compliance violations (HIPAA, PCI, SOX).
  • Maintain network integrity by discovering unauthorized devices and misuse of network equipment.
  • Save huge amounts of time and keep documentation up-to-date with OptiView’s automated reporting function.
Price of Fluke Networks OPVS3-GIG OptiView Series III Integrated Network Analyzer Pro Gigabit = $19,795.05. FOB Jakarta US$ 32,000.00

AirCheck™ Wi-Fi Tester

Wi-Fi is a complex technology, but testing it doesn’t have to be. The AirCheck Wi-Fi tester allows network professionals to quickly verify and troubleshoot 802.11 a/b/g/n networks.

Designed specifically for dispatched troubleshooting, AirCheck simplifies wireless testing by providing:
  • Just a few clicks to the answers you need with streamlined, guided troubleshooting
  • An instant view to required test results including network availability, connectivity, utilization, security settings, rogue hunting, and interference detection
  • A rugged, purpose-built Wi-Fi tester that’s easy to use and easy to carry
Its intuitive design makes it simple for anyone to quickly master AirCheck. Instant power-up and streamlined tests give answers in seconds so you can close trouble tickets faster – making technicians and users alike more productive. Easily manage test results and documentation using AirCheck Manager software. From start to finish, AirCheck helps take the guesswork out of everyday wireless troubleshooting.

Price of Fluke AirCheck Wi-Fi Tester 1.0 = $1,995.00. FOB Jakarta US$ 3,200.00


AirMagnet WiFi Analyzer

AirMagnet WiFi Analyzer is the industry standard tool for mobile auditing and troubleshooting enterprise Wi-Fi networks. AirMagnet WiFi Analyzer helps IT staff quickly solve end user issues while automatically detecting security threats and other wireless network vulnerabilities. The solution includes the industry’s only suite of active WLAN diagnostic tools, enabling network managers to easily test and diagnose dozens of common wireless performance issues including connectivity problems, device conflicts and signal multi-path problems.

AirMagnet WiFi Analyzer includes a full compliance reporting engine, which automatically maps collected network information to requirements for compliance with policy and regulations. AirMagnet WiFi Analyzer integrates with AirMagnet Spectrum Analyzer for simultaneous Layer 1 and Layer 2 Wi-Fi troubleshooting.

AirMagnet WiFi Analyzer is available in two versions: “WiFi Analyzer Express” provides the core building blocks of WiFi troubleshooting and auditing with the ability to see devices, automatically identify common problems and physically locate specific devices. “WiFi Analyzer PRO” significantly extends all the capabilities found in the Express version and adds many more to provide a WiFi tool to solve virtually any type of performance, security or reporting challenge in the field.

Price of OPTIVIEW OPVS3-WFA AIRMAGNET WIFI ANALYZER = $4.195.00. FOB Jakarta US$ 6,700.00

AirMagnet Spectrum Analyzer

Professional wireless networks depend on the presence of a strong reliable physical layer as the basis of communication. This fundamental requirement is a challenge for Wi-Fi networks, which must share the 2.4 GHz and 5 GHz spectrum with a variety of potentially interfering technologies.

AirMagnet Spectrum Analyzer solves this problem with an intuitive solution that allows IT staff to quickly analyze the local RF environment and identify specific sources of interference and their physical locations. It performs real-time RF spectrum analysis and pinpoints the location of problematic wireless devices, including Bluetooth, cordless phones, microwave ovens and video cameras, allowing IT staff to ensure optimal performance of their wireless networks.

The Spectrum Analyzer is an important part of the AirMagnet mobile toolset with the ability to integrate with AirMagnet Survey and AirMagnet WiFi Analyzer at critical stages of WLAN planning and deployment when Layer 1 analysis is needed most.

Price of AirMagnet Spectrum Analyzer IDs nonWiFi Includes PC card external antenna = $4,195.99. FOB Jakarta US$ 4,300.00

AirMagnet Planner

AirMagnet Planner takes the guess-work out of WLAN design and installation, making it easy for network professionals to accurately plan and deploy 802.11-based wireless networks in any indoor environment. The AirMagnet Planner accounts for building materials, obstructions, access point configurations, antenna patterns, and a host of other variables to provide a reliable predictive map of Wi-Fi signal and performance. It ensures full coverage for end-users while minimizing signal bleed into unsecured areas.

AirMagnet Planner can be purchased as a standalone product, as an integrated feature of AirMagnet Survey Express or built into AirMagnet Survey PRO.

Price of Fluke Networks AM/A4013G AirMagnet Planner Module, Software = $1,000.00

Kesimpulan :
  1. DTX CableAnalyzer™ Series = $ 7,979.80. FOB Jakarta = ?
  2. EtherScope™ Series II Network Assistant = $8,551.35. FOB Jakarta = ?
  3. LinkRunner™ Pro & Duo Network Multimeter = $1895.00, FOB Jakarta = ?
  4. CIQ-100 CableIQ™ Qualification Tester = $930.75. FOB Jakarta = ?
  5. NTS2-PRO NetTool™ Series II Inline Network Tester = $2,320.35. FOB Jakarta = ?
  6. OPVS3-GIG OptiView Series III Integrated Network Analyzer Pro Gigabit = $19,795.05. FOB Jakarta = ?
  7. AirCheck™ Wi-Fi Tester 1.0 = $1,995
  8. OPTIVIEW OPVS3-WFA AirMagnet WiFi Analyzer = $4.195.00
  9. AirMagnet Spectrum Analyzer IDs nonWiFi Includes PC card external antenna = $4,195.99. FOB Jakarta = ?
  10. AM/A4013G AirMagnet Planner Module, Software = $1,000.0. FOB Jakarta = ?



Sunday, March 20, 2011

Instalasi Ulang Fedora 14 di Dual Boot System

Karena satu dan lain hal, Windows XP pada dual boot system kami mengalami kegagalan operasi. Langkah terakghir yang dapat dilakukan hanyalah dengan instalasi ulang si windows xp. Setelah berhasil melakukan instalasi ulang Win-XP, ternyata pilihan boot ke Fedora 14 menjadi tidak ada. Setiap kali boot, selalu diarahkan ke Win-XP. Coba-coba instalasi ulang si Fedora 14.

Dengan sedikit agak takut terhapus isi di Win-XP, Fedora 14 akhirnya diinstalasi ulang. Pilihan saat instalasi adalah "Replace Existing Linux System(s)".

Ternyata setelah proses instalasi Fedora 14 berakhir dan di reboot ulang, pilihan boot (GRUB) kembali normal. Alhamdulillah. Oh ya..., saya menggunakan DVD Fedora 14 yang didapat dari majalah InfoLINUX edisi 01/2011.

Sebelumnya sudah diupayakan untuk mengedit GRUB melalui Knoppix 6.4.3 dari InfoLINUX edisi 02/2011, ternyata tidak bisa masuk ke dalam sistem Fedora 14 yang lama.

Wednesday, March 16, 2011

Generasi PLTN Tipe BWR Komersial di Dunia.

PLTN tipe BWR (Boiling Water Reactor) atau reaktor air mendidih adalah salah satu jenis Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir, selain jenis Pressurized Water Reactor (PWR), Fast Breeder Reactor (FBR), Advanced Boiling Water Reactor (ABWR), LWR (Light Water Reactor), CANDU, dan VVER/RBMK (PWR ala Russia). Jenis BWR adalah jenis yang paling banyak digunakan untuk PLTN.
PLTN jenis BWR generasi pertama adalah PLTN yang dioperasikan (bukan dibangun) antara tahun 1957 - 1969. PLTN generasi pertama yang dioperasikan pada tahun 1957 adalah Vallecitos Nuclear Center di kota Sunol, negara bagian California, AS. PLTN generasi pertama yang dioperasikan pada tahun 1969 adalah Tarapur Atomic Power Station unit 1 dan unit 2 di kota Tarapur, negara bagian Maharashtra, India. Dan ini adalah satu-satunya PLTN Gen 1 yang masih beroeprasi hingga saat ini. Rencananya akan dekomisioning (dihentikan operasinya) pada tahun 2021 (52 tahun operasi). PLTN Tarapur bisa beroperasi hingga saat ini salah satu sebabnya adalah overhaul pada tahun 2006 dan mendapat ijin dari IAEA. Tidak seperti pembangkit listrik lainnya, pengoperasian PLTN harus mendapat ijin dari sebuah badan dunia, IAEA. Jadi negara pemilik PLTN tidak bisa semaunya mengoperasikan PLTN.

PLTN jenis BWR generasi kedua adalah PLTN yang mulai dioperasikan sejak 1969, antara lain adalah Oyster Creek Nuclear Generating Station di kota Toms River, negara bagian New Jersey, AS. Rencananya akan dioperasikan hingga 2029. Fukushima I (Daiichi) Nuclear Power Plant unit 1 s/d unit 6 di kota Okuma, Fukushima Prefectur, Jepang adalah termasuk PLTN generasi 2 yang dioperasikan sejak tahun 1971.

PLTN jenis BWR generasi ke 3 mulai dioperasikan tahun 2002, yaitu Onagawa Nuclear Power Plant di kota Onagawa, Miyagi Prefecture, Jepang. ABWR adalah termasuk PLTN generasi ke 3. Contoh generasi ke 3 PLTN ini adalah Fukushima I (Daiichi) Nuclear Power Plant unit 7 dan unit 8 yang sedang dibangun. Rencananya kedua PLTN generasi 3 ini akan mulai dioperasikan tahun 2013 dan 2014. Memang cukup ironis, Jepang adalah negara yang pernah merasakan dampak kedahsyatan senjata nuklir dan sering menghadapi gempa sejak dahulu kala namun tetap ingin memiliki PLTN. Bahkan hingga saat ini sudah ada sekitar 56 unit pembangkit PLTN.

PLTN Fukushima II (Daini) unit 1 - unit 4 berada sekitar 11 km sebelah selatan PLTN Fukushima I. PLTN ini termasuk generasi kedua berdasarkan disain General Electric Mark II BWR dengan kapasitas per unit 1067 MWe.

Fukushima Daini II
Reactor, Design, Size, Date of Commercial operation
Fukushima II-1, GE Mark II BWR, 1067 MW, April 1982
Fukushima II-2, GE Mark II BWR, 1067 MW, February 1984
Fukushima II-3, GE Mark II BWR, 1067 MW, June 1985
Fukushima II-4, GE Mark II BWR, 1067 MW, August 1987

Dekomisioning atau penghentian operasi PLTN karena berbagai sebab. Pada dasarnya jika sudah berusia 50 tahun, maka PLTN wajib dikomisioning. Namun demikian ada juga yang dihentikan operasinya di tengah jalan. Misal, karena adanya keputusan politik. Ini terjadi pada PLTN Barseback di Swedia, namun PLTN-PLTN lain seperti PLTN Ringhals, Oskarshamn, Forsmark yang berada di Swedia, masih tetap dioperasikan. Ada juga yang dihentikan operasinya karena desakan kelompok anti nuklir, seperti terjadi pada PLTN Shoreham, PLTN Vallecitos, PLTN Pathfinder, dan PLTN Elk River di AS, dan PLTN Caorso di Italia. Ada yang dihentikan karena aspek ekonomi, seperti PLTN La Crosse, PLTN Humboldt Bay, PLTN Dresden, PLTN Big Rock Point di AS, PLTN Dodewaard di Belanda, PLTN Garigliano di Italia, PLTN Lingen, PLTN Grundemmingen di Jerman.

Tampaknya proses dekomisioning PLTN Fukushima I, khususnya unit 1 (Maret 1971), unit 3 Maret 1976) dan unit 4 (Oktober 1978) akan dipercepat dari jadwal yang seharusnya mengingat besarnya kerusakan. Rencananya PLTN ini akan di-dekomisioning pada tahun 26 Maret 2011 (unit 1), 26 Maret 2016 (unit 3), 12 Oktober 2018 (unit 4). Ternyata takdir lebih cepat datang dari pada rencana manusia. Dekomisioning bisa dilakukan dengan penimbunan material beton atau mengkungkung teras reaktor seperti yang dilakukan pada PLTN Chernobyl. Kita tunggu kabar selanjutnya mengenai nasib PLTN Fukushima I unit 2 (ops sejak Juli 1974), unit 5 (ops sejak April 1978), unit 6 (ops sejak Oktober 1979), unit 7 (baru mau akan dibangun 2012) dan unit 8 (baru mau akan dibangun 2012). Rencananya Fukushima I unit 2 akan decom pada 18 Juli 2014, unit 5 decom pada 18 April 2018, dan unit 6 decom pada 24 Oktober 2019.

Ada juga yang dekomisioning karena alasan teknis, seperti PLTN Millstone di AS, PLTN Wurgassen di Jerman.

Ada juga yang terus dioperasikan sebagai hasil referendum. Hal ini terjadi di Swiss, yaitu terhadap PLTN Leibstadt, PLTN Muhleberg.

Umumnya pendirian PLTN karena tenaga listrik yang dihasilkan sangatlah besar. PLTN generasi ke 3, setiap unitnya mampu memberikan 1380 MWe. Padahal setiap PLTN setidaknya bisa memiliki 4 unit pembangkit dalam satu lokasi. Jadi dapat dibayangkan berapa besar listrik yang dihasilkan untuk sebuah PLTN, setidaknya 4 x 1380 MWe atau 5520 MWe. Jika menggunaan batubara, kapasitas sebesar ini biasanya dihasilkan oleh 4 buah PLTU, bukan 4 unit PLTU lho. Dengan kapasitas PLTN sebesar itu, maka kebutuhan listrik di Pulau Jawa bisa dicukup oleh 3 buah PLTN saja.

Jika listrik yang dihasilkan PLTN kemudian digunakan untuk menggerakkan transportasi publik yang tadinya berbasis BBM, maka akan banyak konsumsi BBM yang bisa dikurangi. Tidak hanya itu, kontinuitas pasokan listrik di Jawa akan lebih stabil, tidak terganggu oleh cuaca laut Jawa. Bahkan akan banyak batu bara yang tidak perlu dibakar. Yang pada akhirnya akan mengurangi cemaran CO2 di udara.

Resiko penggunaan PLTN akan dicoba untuk diminimalkan dengan digunakannya PLTN generasi ke 3 (ABWR) di masa-masa mendatang, yang telah dimulai sejak tahun 2002. Jika penggunaan PLTN dinilai memiliki prospek, tidak tertutup kemungkinan riset dan pengoperasian PLTN generasi 4 akan dipercepat menjadi sebelum tahun 2030. Pada dasarnya manusia tidak akan menyerah pada tantangan dan resiko. Resiko yang terjadi bukan membuat menjadi mundur dan ciut karena kehilangan nyali, namun justru menjadi tantangan bersama untuk dipecahkan selama masih dalam rangka mensejahterakan umat manusia. Takdir baik dan takdir buruk adalah bagian integral dari kehidupan yang wajib diyakini.

Setidaknya ada 150 kapal selam dan kapal induk yang memanfaatkan PLTN sebagai penggeraknya. Bagi AS, Perancis dan Jepang, 50% kapasitas listriknya dihasilkan oleh PLTN. Bahkan sejak kecelakaan di Three Mile Island (1979) dan bencana di Chernobyl (1986), jumlah PLTN terus meningkat. Peningkatan yang paling signifikan adalah pembangunan PLTN di Cina, Korea Selatan, India dan Russia. Ironis, di satu sisi dibenci, di sisi lain diharapkan. Bahkan negara-negara penghasil minyak, batubara dan gas alam terbesar, banyak menggunakan PLTN. Negara-negara ini tetap menggunakan PLTN meskipun sumber energi lain masih melimpah.

Untuk mendirikan dan mengoperasikan sebuah PLTN butuh waktu persiapan yang panjang, sehingga perencanaan menjadi hal yang krusial. Negara yang membutuhkan PLTN tidak bisa serta merta dapat membangun PLTN, meskipun dana tersedia. Infrastruktur harus disiapkan secara matang di bawah pengawasan IAEA. Pembangunan PLTN hingga siap beroperasi bisa menghabiskan waktu 5 tahun. Studi kelayakan, disain, infrastruktur harus disiapkan 5 tahun sebelumnya. Jadi setidaknya negara tersebut butuh waktu 10 tahun sebelum PLTN benar-benar beroperasi. Hanya negara yang berwawasan ke depan dan berkomitmen kuat dalam mensejahterakan rakyatnya yang mampu memiliki PLTN.

Lihat :
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_boiling_water_reactors
http://en.wikipedia.org/wiki/Nuclear_power_plant
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_nuclear_reactors#Japan
http://en.wikipedia.org/wiki/Nuclear_power_in_Japan
http://en.wikipedia.org/wiki/VVER
http://en.wikipedia.org/wiki/Generation_IV_reactor
http://en.wikipedia.org/wiki/Fukushima_I_Nuclear_Power_Plant