Saturday, January 23, 2010

Auto Refresh / Reload Web Page

To make the page reload or refresh itself, we have to use the following code inside the head tag.
<meta http-equiv="refresh" content="5" >
The attribute http-equiv="refresh" calls for refresh of the page.

The attribute content="5" sets the time for refresh.

The time after which the page has to reload is set using the content attribute.
Say if you want the page to refresh after 10 seconds interval, set content value to 10.

We would recommend the time of refresh [reloading interval] be above 5 seconds. This is because you have to consider the page loading time.

Example , online.php with auto refresh for 60 seconds :

<?php // ---- online.php ----
session_start();
include "global.inc.php";
?>
<HTML>
<HEAD>
<META HTTP-EQUIV="CONTENT-TYPE" CONTENT="text/html; charset=utf-8">
<meta http-equiv="refresh" content="60" >
<TITLE>Online User Webmail BATAN</TITLE>
<META NAME="GENERATOR" CONTENT="gEdit 2.20.3 (Linux)">
<META NAME="CREATED" CONTENT="20080304;11545200">
<META NAME="CHANGEDBY" CONTENT="Muh. Sirojul Munir">
<META NAME="CHANGED" CONTENT="20080304;12344100">
<META NAME=author CONTENT="Muh. Sirojul Munir">
<META NAME="description" CONTENT="online user webmail">
<META NAME="keywords" CONTENT="online, webmail, batan">
<link rel="Shortcut Icon" href="/favicon.ico" />
<link href="style.css" rel="stylesheet" type="text/css" />
<style type="text/css">
</style>
</HEAD>
<BODY>
<?php
$pageId=$_GET['pageId'];
$sqlSelect=$_POST['sqlSelect'];
$submitBtn=$_POST['submitBtn'];
$typeSelect=$_POST['typeSelect'];
$search=$_POST['search'];
$waktu=date("H:i:s d-m-Y");
$sqlLimit="select distinct ou_user from onlineusers order by ou_user asc";
$dbconnect=mysql_query($sqlLimit);
$rec_num=mysql_num_rows($dbconnect);
//echo "$sqlRekRows";
echo "
<br>
<font color=#0aa1bc face=verdana size=5><b>ONLINE USER WEBMAIL BATAN</b></font>
<br><br>";
echo "
<br>
Waktu saat ini: $waktu
<br><br>
<table width=25% class=ntn>
<tr>
<th align=left>Username</th>
</tr>
";
for($RekRows=0;$RekRows<$rec_num;$RekRows++){
$getval=mysql_fetch_array($dbconnect);
$_ou_timestamp=$getval[ou_timestamp];
$_ou_user=$getval[ou_user];
$_ou_right_main=$getval[ou_right_main];
$id=$getval[id];
echo "
<tr bgcolor=".strip2($RekRows).">
<td align=left><font face=verdana size=3>$_ou_user</font></td>
</tr>";
}
echo "</table>";
echo "Total user: ";
echo "$rec_num";
?>
</BODY>
</HTML>


Sumber :
http://www.hscripts.com/

Menambah FIle Audio di Blogspot

Selama ini, blogspot hanya menyediakan fasilitas upload gambar atau file video saja dalam postingan artikel. Mungkin karena alasan hak cipta, blogger blogspot tidak bisa meng-upload (dan sekaligus memainkan secara langsung) file audio seperti MP3. Namun ada beberapa cara untuk mengakalinya.

Berikut akan aku tuliskan pengalamanku menambahkan file audio (dalam hal ini file MP3 yang sudah aku host di serverku) yang dapat langsung dimainkan dalam artikel ini.

Cara menyertakan (embed) file audio/MP3 ke dalam artikel sebenarnya gampang-gampang susah. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, namun aku akan menunjukkan salah satunya yang sudah pernah aku praktekkan.

Ketika menulis artikel, masuk ke mode Edit HTML. Kopi kode berikut :

<embed src= "http://www.odeo.com/flash/audio_player_standard_gray.swf" quality="high" width="300" height="52" allowScriptAccess="always" wmode="transparent" type="application/x-shockwave-flash" flashvars= "valid_sample_rate=true&external_url=http://202.46.3.71/lagu/dea_menanti.mp3" pluginspage="http://www.macromedia.com/go/getflashplayer"%gt; </embed>

Ganti kode warna merah dengan ukuran player yang anda kehendaki (sesuaikan dengan tema blog anda). Ganti tulisan warna biru dengan url hosting dimana file mp3 anda disimpan. Tempatkan kode dimana anda ingin player ditampilkan. Contoh tampilan hasilnya dapat dilihat di bawah ini. Jika anda punya pengalaman lain yang mungkin lebih simpel dan hasil lebih bagus, silakan share disini.

ADA Band - Yang Terbaik Bagimu


Chrisye - Pelangi


Dea Mirela - Menanti


Dewi Lestari - Malaikat Juga Tahu

Pada 15 Mei 2010, dicoba buka artikel ini, menu lagu tidak muncul. Kenapa ya? Beberapa langkah perbaikan yang telah dilakukan :
  1. Coba ganti alamat server dimana file mp3 diambil, menu lagu tidak muncul.
  2. Coba periksa plug-in nya.
  3. Cek bandingkan dengan situs http://filegratis2u.blogspot.com/ Pada situs ini, menu lagu juga tidak tampil.
  4. Coba periksan alamat situs dimana menu ini diacu, yaitu ke http://www.odeo.com/. Ada pesan kesalahan : 503 Service Temporarily Unavailable. The server is temporarily unable to service your request due to maintenance downtime or capacity problems. Please try again later.
Untuk sementara, menggunakan cara manual aja. Barangkali langkah 4 kapan-kapan bisa dilakukan ulang tanpa ada kesalahan lagi.

ADA Band - Yang Terbaik Bagimu
Chrisye - Pelangi
Dea Mirela - Menanti
Dewi Lestari - Malaikat Juga Tahu

Sumber :
http://www.bewegaleri.com/
http://gudanglagu.com/
http://www.stafaband.info/

Mengubah image header blogspot.
  1. Cari foto yang bagus menurut Anda lalu buka dengan GIMP (pengolah gambar semacam Adobe PhotoShop, namun Free Open Source Software)
  2. Potong foto dengan ukuran 3000x633
  3. Simpan atau export foto dalam format jpg dengan Quality = 100%
  4. Ubah ukuran foto melalui perintah baris mogrify di terminal
  5. Jalankan perintah "mogrify -resize 710x150 nama_file.jpg" lalu Enter.
  6. Hasil olah gambar sudah siap dimasukkan ke blogspot.
  7. Masuk ke menu Design lalu klik link Edit di bagian header, lalu klik Remove Image untuk menghapus gambar saat ini, kemudian upload gambar baru dengan meng-klik Image From your computer atau langsung klik tombol Telusuri..., lalu pilih file gambar tadi, lalu klik Buka.
  8. Setelah ter-upload ke blogspot, klik tombol SAVE di bagian bawah, lalu klik SAVE sekali lagi di Design.
  9. Coba cek, apakah header blogspot sudah berubah.

Friday, January 22, 2010

Masalah dengan aplikasi under Windows di Fedora 11

Linux tanpa bisa menjalankan aplikasi under Windows rada repot juga. Untuk itu perlu diinstalasi Wine atau Window Emulator. Dengan hanya menjalankan perintah baris "yum install wine", saya sudah mendapatkan paket yang bisa meng-emulasi program under Windows di Fedora saya. Setelah Wine terinstalasi, saya mencoba menjalankan winbox-2.2.13.exe, namun muncul pesan kesalahan sbb :

An error occured while loading the archive
Coomand Line Output
[/home/msmunir/Desktop/winbox-2.2.13.exe]
End-of-central-directory signature not found. Either this file is not a zipfile, or it constitutes one disk of a multi-part archive. In the latter case the central directory and zipfile comment will be found on the last disk(s) of this archive.
zipinfo: cannot find zipfile directory in one of /home/msmunir/Desktop/winbox-2.2.13.exe or /home/msmunir/Desktop/winbox-2.2.13.exe.zip, and cannot find /home/msmunir/Desktop/winbox-2.2.13.exe.ZIP, period.


Saya mencoba menjalankan aplikasi winbox-2.2.13.exe dari command line :

[root@msmunir ~]# wine /home/msmunir/Desktop/winbox-2.2.13.exe

Ternyata jalan seperti yang diharapkan.

Solusi :
Klik kanan aplikasi winbox-2.2.13.exe yang ada di desktop (kebutulan saya meng-copy-nya ke sana) lalu pilih Properties lalu pilih tab Open With Wine Windows Program Loader (sebelumnya Archive Manager) lalu Close.

Sekarang coba klik ganda icon winbox-2.2.13.exe. Mudah-mudahan sesuai dengan harapan.

Thursday, January 21, 2010

Sambutan Silaturahmi dengan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)

SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA SILATURRAHIM DENGAN AKADEMI ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (AIPI) DAN MASYARAKAT ILMIAH

Serpong, 20 Januari 2010

Bismillah Hirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum Wr Wb

Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati, Presiden Republik Indonesia ketiga, Bapak Prof. Dr. Baharudin Jusuf Habibie,
Yang saya hormati Menteri Riset dan Teknologi dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II,
Yang Mulia Ambassador Cameron Hume,
Yang saya hormati Gubernur Banten,
Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) dan Para Ilmuwan yang tergabung dalam AIPI, LIPI, dan asosiasi-asosiasi ilmu pengetahuan di Indonesia,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah kita bersama-sama, memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya, kita tetap diberi kekuatan, dan insya Allah kesehatan, sehingga kita dapat bertatap muka dalam kesempatan yang membahagiakan ini.

Melalui kesempatan ini pula, saya ingin menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada para ilmuwan terkemuka Indonesia yang tergabung dalam Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), atas pemikiran, kajian, dan penelitian yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Kemajuan yang kita capai hingga hari ini, tentu tidak terlepas dari kontribusi saudara semua.

Saya juga menyampaikan penghargaan yang tinggi atas pernyataan Presiden Barack Obama, yang baru saja dibacakan oleh Duta Besar Cameron Hume. Pandangan yang konstruktif dan ajakan positif Presiden Obama untuk meningkatkan kerjasama bilateral di bidang Iptek, pendidikan, energi dan perubahan iklim patut kita sambut dengan baik. Namun kita semua juga merasa prihatin bahwa US Science and Technology Special Envoy, Mr. Bruce Alberts, yang semula akan hadir di sini mengalami musibah kecelakaan. Mari kita doakan, agar Mr. Bruce Alberts dapat lekas pulih kembali seperti sediakala.

Saudara-saudara,
Kita sungguh berharap, pertemuan ini dapat merintis jalan ke arah peningkatan kerja sama antara Indonesia-Amerika Serikat, di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Indonesia dan Amerika Serikat kini sedang aktif menggarap suatu Kemitraan Strategis baru: yaitu suatu kemitraan komprehensif, yang mencakup kerja sama dalam berbagai sektor penting bagi kedua negara. Dalam kaitan ini, kerja sama di bidang pendidikan dan teknologi menjadi bagian penting dari kemitraan strategis kedua negara. Insya Allah, Kemitraan Komprehensif ini dapat diresmikan dalam kunjungan Presiden Barack Obama ke Indonesia yang direncanakan tahun ini.

Saya juga menyambut baik pernyataan Presiden Obama di Kairo bulan Juni tahun lalu, bahwa Amerika Serikat kini berkomitmen untuk membangun kemitraan baru—“a new beginning”—dengan dunia Islam, yang di antaranya mencakup kerja sama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Hal ini penting karena beberapa hal :

PERTAMA, memang, kalau kita ingin membangun suatu peradaban dunia (global civilization), kita perlu terus membangun jembatan antar-peradaban, terutama di antara dunia Barat dan dunia Islam. Semua pihak harus berperan aktif menyebarkan soft power, yang akan memperkokoh landasan bagi perdamaian dunia.

KEDUA, Islam tidak pernah bertolak belakang atau memusuhi ilmu pengetahuan–bahkan Islam selalu selaras dengan ilmu pengetahuan. Bahkan, puncak kejayaan Islam sebagai peradaban dunia yang paling maju di Abad ke-13 justru terjadi, karena umat Islam membuka diri dan mengejar ilmu pengetahuan di manapun. Dengan pusat peradaban di Baghdad, umat Islam mencatat berbagai kemajuan dan penemuan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sampai sekarang kita rasakan manfaatnya: kompas, anestesi, aljabar, optik, astrologi, irigasi, navigasi, kimia, teknik sipil, rumah sakit pertama, dan kapal-kapal perdagangan. Pesan dan pelajaran sejarah ini masih tetap relevan–bahkan semakin relevan–sekarang: “siapa yang mau maju, harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dan KETIGA, tidak akan pernah ada the second Islamic renaissance di Abad ke-21, tanpa penguasaan umat Islam di bidang iptek. Meskipun terdapat kemajuan di beberapa komunitas Islam, sebagian besar umat Islam saat ini masih tertinggal dalam pencapaian Millenium Development Goals, dan Human Development Index, masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan, serta masih termarginalisasi dalam era globalisasi. Masih banyak umat Islam yang terlalu bernostalgia terhadap kejayaan di masa lalu, tanpa memahami bahwa peluang untuk maju dan berkarya di depan mata justru jauh lebih besar.

Sewaktu saya berpidato di Harvard University akhir tahun lalu, dan juga dalam artikel The Economists yang saya tulis, saya menekankan bahwa Abad ke-21 tidak harus mengikuti skenario “clash of civilizations”. Abad ke-21 justru dapat kita wujudkan menjadi suatu confluence of civilizations, di mana seluruh peradaban dunia–apakah Barat, Islam, Timur–dapat hidup berdampingan secara damai, dan dapat saling memperkaya dan melengkapi.

Kita yakini bahwa hal ini bukan sebuah utopia, tetapi suatu visi yang realistis–an achieveable vision.

Hadirin yang saya hormati,
Mari kita memulai dengan suatu preposisi: “Abad ke-21 akan menjadi abad paling inovatif dalam sejarah umat manusia”.

Disadari atau tidak, kita sedang berada dalam arus perubahan sejarah yang sangat dahsyat. Ada yang menyatakan bahwa arus perubahan dalam 10 tahun mendatang, akan lebih deras daripada perubahan dalam 100 tahun terakhir.

Kita lihat saja komputer, internet dan telepon selular. Di awal tahun 1990-an, email, komputer dan handphone hanya dinikmati oleh segelintir orang. Kini, 20 tahun kemudian, di seluruh dunia, 1,4 milyar orang telah mempunyai e-mail, ada 1 miliar komputer, dan 3,3 miliar pengguna handphone–sekitar separuh dari jumlah penduduk dunia. Proses ini akan terus berkembang. Kita meyakini bahwa di paruh kedua Abad-21, sebagian besar umat manusia akan terjamah oleh komputer, internet dan handphone.

Peradaban manusia juga sering berubah karena ide-ide dan penemuan-penemuan baru. Penemuan bubuk mesiu menimbulkan transformasi militer dengan segala implikasi politiknya. Penemuan mesin uap memulai revolusi industri dan mengubah sejarah Eropa. Penemuan vaksin di abad ke-18 mengubah ilmu kodokteran dan menyelamatkan jutaan umat manusia. Penemuan reaksi fisi nuklir menghasilkan bom atom dan senjata nuklir yang dapat memusnahkan umat manusia.

Berbeda dari abad-abad sebelumnya, perubahan yang kita alami di Abad ke-21 akan bergerak sangat pesat. Misalnya: dalam kurun waktu hanya sekitar 100 tahun, manusia dapat bergerak dari kecepatan kuda, ke kecepatan mobil, ke kecepatan jet, ke kecepatan suara, dan bahkan sudah mendarat di bulan.

Sejumlah negara–baik besar maupun kecil—yang dulu dikenal sebagai “negara miskin” kini telah melejit menjadi ekonomi yang unggul. Indonesia sendiri, yang dulu pernah menjadi salah satu bangsa paling miskin di Asia, kini telah menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20.

Kita juga melihat perubahan pesat ini di bidang lingkungan, khususnya perubahan iklim. Semenjak revolusi industri di Eropa 200 tahun lalu, karena ulah manusia, terutama di negara-negara industri maju, suhu dunia telah naik sekitar 0,6 derajat celcius. Konsentrasi karbondioksida meningkat 36%, dan lapisan ozon semakin menipis. Kalau kita tidak cepat meng-atasinya, suhu dunia bisa naik 4 derajat Celsius dan membawa malapetaka bagi umat manusia dan bagi planet bumi—rumah kita satu-satunya.

Dalam menghadapi arus sejarah yang dahsyat ini, saya yakin sekali bahwa dalam Abad ke-21 yang akan menjadi the most powerful driver of change adalah teknologi. Apakah itu bangsa, perusahaan, komunitas, atau individu, the biggest driver for change adalah teknologi.

Dewasa ini, kita semua telah melihat dan merasakan: porsi teknologi dalam PDB kita semakin besar. Porsi Teknologi dan know-how semakin menonjol, apakah itu untuk pertanian, industri, perdagangan, keuangan, pendidikan, kesehatan, pertahanan, jasa, dan lain-lain.

Makin nyata, pertumbuhan ekonomi dan daya saing sebuah bangsa sangat disumbang oleh penguasaan teknologi. Inilah yang sering disebut sebagai “intangible intellectual resources”, atau “knowledge capital”.

Kecenderungan ini akan terus menguat, karena proses pengembangan teknologi tidak akan pernah berhenti.

Dalam abad yang sangat progresif ini, kita tidak bisa lagi hanya mengutuk masa lalu atau menyalahkan orang lain. Kalau kita gagal, itu adalah kesalahan kita sendiri, karena kita tidak mampu membaca tanda-tanda zaman. Kalau kita kelak tampil unggul di depan yang lain, itu terjadi karena kerja keras dan kemampuan kita dalam beradaptasi.

Saudara-saudara,
Karena itulah, kunci dari keunggulan Indonesia di Abad ke-21 adalah ilmu pengetahuan dan teknologi.

Salah satu penyebab bangsa kita terbelakang selama ratusan tahun adalah, karena nenek moyang kita tidak mendapatkan akses terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dari belahan dunia lain. Sebelum kebangkitan nasional tahun 1908, pada saat Eropa mendominasi dunia, Jepang mengalami Restorasi Meiji, Amerika Latin menikmati masa kemakmuran, Amerika Utara tumbuh pesat, dan Kerajaan Islam Otoman berjaya, bangsa Indonesia masih terisolasi dalam penindasan kolonialisme, dan rakyat kita tenggelam dalam kebodohan dan kemiskinan.

Abad ke-20 adalah abad kebangkitan nasional, abad kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Kunci sukses kita untuk mencapai itu tiada lain adalah persatuan. Kita mutlak membutuhkan persatuan untuk melawan penjajah, untuk mempertahankan kemerdekaan, untuk menangkal separatisme, untuk menjaga keutuhan wilayah, untuk membangun perekonomian, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan untuk mengembangkan jati diri bangsa. Itulah perjuangan kita di Abad ke-20.

Di Abad ke-21, situasinya telah berbeda: Hakikatnya, Indonesia tidak punya musuh, dan tidak ada negara lain yang memusuhi Indonesia. Politik bebas aktif Indonesia kini diabdikan untuk mewujudkan “a million friends, zero enemy”. Abad ke-21 adalah abad keunggulan, dan kunci sukses untuk mencapai itu adalah inovasi. Kita memerlukan inovasi untuk memerangi kebodohan, untuk mengentaskan kemiskinan, untuk memacu pertumbuhan dan produktivitas, dan untuk menjadi bangsa yang terhormat, maju dan kompetitif.

Saudara-saudara,
Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa adalah hasil dari suatu kerja besar yang terencana dan berkesinam-bungan. Sesungguhnya pula merupakan bagian integral yang dinamis dari sebuah peradaban (civilization).

Teknologi tidak bisa dimimpikan dan didatangkan begitu saja—bukan seperti membeli barang di supermarket. Mungkin satu dua teknologi bisa dibeli seperti itu—namun tidak untuk mencapai technological society, dan juga knowledge society.

Untuk menjadi bangsa yang menguasai iptek, kita harus bisa menempatkan inovasi sebagai urat nadi kehidupan bangsa Indonesia. Kita harus bisa menjadi Innovation Nation —bangsa inovasi! Rumah bagi manusia-manusia yang kreatif dan inovatif.

Untuk mencapai kondisi seperti itu ada sejumlah hal penting yang harus kita bangun dan lakukan.

Pertama, adalah mengubah mindset. Ingatlah, innovation is a state of mind. Inovasi itu adalah suatu semangat, suatu energi, dan suatu etos. Semua fenomena sejarah—apakah itu peradaban Islam, Renaissance di Eropa, Restorasi Meiji di Jepang, tampilnya Amerika sebagai superpower, “the rise of” Cina dan India—semuanya dimulai dengan suatu semangat, dan terbangunnya mindset baru, yang kemudian menghasilkan berbagai inovasi baru, dan yang akhirnya mengakibatkan transformasi besar-besaran.

Karena itulah, kita di Indonesia harus bisa mengembangkan budaya unggul—a culture of excellence—baik di birokrasi, di universitas, maupun di sektor swasta. Sistem dan lingkungan nasional kita harus bisa melahirkan inovator-inovator yang kreatif. Ini semua akan terwujud jika masyarakat kita, kita semua, benar-benar menghargai kerja keras kaum peneliti, ilmuwan, dan inventor. Mereka harus bisa menjadi ikon masyarakat, dan bukan menjadi catatan pinggir, apalagi hidup tanpa penghormatan, tanpa apresiasi, dan tidak sejahtera. Ilmuwan, peneliti dan inovator harus berada di garis terdepan perubahan nasib bangsa, dan menjadi pendekar keunggulan.

Inovasi juga menuntut sikap open-mind dan risk-taking, bukan sikap yang kaku dan dogmatis. Komunitas iptek Indonesia harus berwawasan jauh lebih terbuka dan lebih progresif dari masanya, dan dari masyarakat, untuk mengembangkan ilmu dan teknologi. Dalam era globalisasi dewasa ini, Nasionalisme kita dicerminkan bukan dalam tindakan melawan atau menutup diri dari dunia, namun dalam kemampuan untuk menyerap ilmu dan teknologi dari manapun untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Karena itulah, kita bercita-cita agar Indonesia menjadi bagian integral dari komunitas ilmuwan dunia. Kita berharap sebanyak mungkin ilmuwan Indonesia mengadakan riset, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Saya ingin ilmuwan Indonesia bahu membahu dengan ilmuwan internasional, dalam memperkaya khasanah ilmu pengetahuan umat manusia. Kita harus aktif bukan saja menyerap ilmu dari dunia, namun juga menyumbang ilmu untuk dunia.

Itulah mindset yang akan mengantarkan kita menjadi Innovation Nation.

Saudara-saudara faktor kedua adalah, selain didukung mindset yang tepat, inovasi juga memerlukan Investasi dan Insentif. Inovasi tidak datang dari langit, namun memerlukan inkubator-inkubator—di lingkungan pemerintah, universitas, perusahaan, dan lain-lain. Mau tidak mau, harus ada sumberdaya dan dana yang cukup, serta program yang berkesinambungan.

Pada awal saya mengemban amanah rakyat, saya menyadari bahwa alokasi dana untuk penelitian dan pengembangan (R&D-research and development) di Indonesia pada tahun 2005 masih rendah – yaitu sekitar Rp 1 trilyun. Karena itulah, pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan porsi itu menjadi lebih memadai, dan syukur alhamdullilah pada tahun 2010 dapat kita tingkatkan menjadi Rp 1,9 triliun. Tentu saja jumlah inipun masih harus terus kita tingkatkan. Namun, perlu diingat, sumberdaya dan dana penelitian dan pengembangan tidak hanya berasal dari APBN, tetapi juga mesti dianggarkan oleh dunia usaha yang juga memerlukan inovasi di perusahaannya masing-masing. Pendanaan dari kerjasama internasional juga merupakan alternatif yang makin terbuka.

Sementara itu saya berpandangan, bahwa cara penting untuk membangun inovasi adalah melalui pengembangan enterpreneurship. Kita semua tahu bahwa enterpreneurship identik dengan inovasi, risk-taking, peluang, dan dinamisme. Di Amerika, Cina, India, Jepang, Korea, dan Singapura, kita melihat bahwa inovasi tumbuh pesat sejalan dengan merebaknya enterpreneurship.

Yang juga penting diingat: kita tidak harus selalu menjadi inventor teknologi baru. Namun kita harus cerdik mencari, menyerap dan mengembangkan teknologi baru untuk pembangunan Indonesia. Bahkan, sering terjadi, pihak yang lebih cerdik mendayagunakan teknologi bisa lebih maju dari pihak yang menemukan teknologi itu sendiri.

Faktor ketiga adalah, kebijakan pemerintah dan kolaborasi. Kalau kita lihat dari bukti-bukti empiris, hampir semua inovasi teknologi merupakan hasil dari suatu kolaborasi, apakah itu kolaborasi antar-pemerintah, antar-universitas, antar-perusahaan, antar-ilmuwan, atau kombinasi dari semuanya. Karena itulah, networking antara inkubator menjadi sangat penting. Saya mendorong ilmuwan Indonesia untuk menjalin networking dan kolaborasi yang seluas-luasnya dengan lembaga penelitian, lembaga kajian dan universitas manapun di dunia, karena ini adalah kunci sukses bagi masa depan kita. Salah satu ciri Era Globalisasi dewasa ini adalah keniscayaan untuk sebuah knowledge-sharing antar bangsa.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Dunia kini boleh dikatakan sedang panen teknologi. Namun perlu diingat, teknologi yang kita cari dan pilih haruslah tetap relevan dengan tantangan-tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang dan ke depan. Tantangan itu antara lain adalah : pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan energi, pemeliharaan lingkungan hidup, peningkatan industri, ketangguhan pertahanan dan keamanan negara, serta penguasaan teknologi yang menjemput masa depan.

Karena itulah, ke depan, bangsa Indonesia harus makin menguasai teknologi, yang dapat menjawab tantangan-tantangan pokok itu.

Pertama, teknologi untuk mengentaskan kemiskinan–pro-poor technology.

Teknologi sering disalah-persepsikan seolah hanya untuk kepentingan industri besar yang canggih saja. Padahal untuk negeri kita juga diperlukan teknologi yang dapat memberdayakan rakyat miskin. Misalnya: telekomunikasi murah untuk desa terpencil, bibit unggul, teknologi air bersih, hidroenergi dan Rumah Sederhana Tahan Gempa.

Kedua, teknologi hijau – green technology. Kita sudah menetapkan target penurunan emisi 26% untuk tahun 2020 dari “business as usual”, dan target ini bisa ditingkatkan menjadi 41% apabila ada bantuan internasional yang memadai. Untuk itu, kita harus menerapkan pembangunan yang hemat energi (low carbon footprint), meningkatkan penggunaan sumber energi terbarukan seperti geothermal, angin, dan surya, serta meningkatkan teknologi pengawasan hutan, misalnya melalui satelit, untuk mendeteksi hotspot kebakaran hutan. Saya juga bangga bahwa seorang inovator energi kita, Saudari Tri Mumpuni, telah merintis pembangunan energi mikro-hidro di desa-desa, dan telah mendapatkan pengakuan internasional. Inovasi segar seperti ini harus terus dikembangkan dan disebarkan.

Ketiga, teknologi pangan, yang sangat penting bagi kesejahteraan rakyat kita (food security). Kita memerlukan teknologi pertanian baru untuk mencari bibit unggul, meningkatkan hasil panen, dan melipat-gandakan produktifitas pangan guna mencapai kondisi swasembada, bahkan ketahanan pangan yang berkelanjutan. Saya ingin, pada saatnya nanti Indonesia menjadi “major food producer” di dunia internasional.

Keempat, teknologi industri. Produk-produk industri Indonesia harus bisa menunjang pencapaian 2 aspek penting, yaitu padat teknologi dan padat karya. Kita harus bisa membuat industri kita lebih efisien, lebih produktif dan lebih mempunyai nilai tambah. Kita juga harus mulai mencapai high-end products, menciptakan branding yang dikenal dunia internasional, dan bahkan bisa bersaing dalam aspek desain yang selama ini cenderung didominasi industri negara-negara maju. Hal ini penting karena pada saat ini dan ke depan, industri akan tetap menjadi tulang panggung ekonomi Indonesia.

Kelima, teknologi kesehatan. Kita harus mencari teknologi terkini untuk memerangi penyakit-penyakit menular : apakah itu H5N1, H1N1 dan virus-virus berbahaya lainnya, yang pasti akan terus bermutasi mengancam keluarga kita dan bahkan umat manusia. Virus berbahaya, sama seperti bencana alam, akan menjadi salah satu ancaman paling riil bagi bangsa kita di abad ke-21. Seperti yang kita alami dalam kasus epidemi H1N1 (Swine Flu), Indonesia tidak bisa menangani ancaman ini sendiri, apalagi kalau menyangkut virus yang datang dari luar yang kita tidak mempunyai vaksinnya. Karena itulah, kita harus bekerja-sama dua arah : kita berbagi ilmu dan penemuan dengan dunia kesehatan internasional, sebagaimana kita terus mengharapkan dunia luar berbagi dengan kita.

Keenam, teknologi maritim. Sebagai negara Nusantara, kita harus membangun teknologi kelautan, misalnya untuk konversi air minum atau teknologi perkapalan. Kita juga harus mendapatkan teknologi canggih untuk bisa mengeksplorasi kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, baik perikanan, hydrocarbon dan mineral. Saat ini, misalnya, kita belum mempunyai kemampuan yang memadai untuk melakukan offshore drilling apalagi deep sea drilling. Indonesia secara fisik adalah negara Kepulauan terbesar di dunia, tapi kita belum menjadi negara maritim yang kuat.

Ketujuh, teknologi pertahanan. Disini, TNI harus terus meningkatkan postur dan kapabilitasnya, termasuk penguasaan “revolution in military affairs” (RMA). Kita harus bisa meningkatkan kualitas dan tingkat teknologi industri pertahanan kita– termasuk melalui joint production dengan industri militer negara-negara lain, serta bentuk kerjasama yang lain. TNI harus meningkatkan kapasitas untuk melakukan military operations other than war (MOOTW), serta kemampuan peace-keeping operation di wilayah-wilayah konflik di dunia. TNI juga harus mempunyai kemampuan untuk melakukan surveillance dan menjaga pulau-pulau terpencil, wilayah perbatasan dan lautan Nusantara yang terbentang luas. Sementara itu, Polri dan aparat intelijen juga harus terus meningkatkan kemampuan operasionalnya untuk melawan kejahatan trans-nasional, termasuk kelompok teroris yang juga memanfaatkan teknologi yang canggih.

Dan, kedelapan adalah, teknologi masa depan: yaitu nano technology, bio-engineering, genomics, robotics, dan lain-lain. Teknologi-teknologi revolusioner ini tentu tidak sepatutnya hanya didominasi dan dimonopoli negara-negara maju saja. Banyak emerging economies --seperti Cina, India, dan Brazil - yang kini mulai merintis teknologi-teknologi baru ini. Indonesia tidak boleh tertinggal. Saya senang sekali bahwa Universitas Pelita Harapan (UPH) sudah mulai membangun pusat riset untuk nano-technology.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Untuk mengembangkan semua ini, dibutuhkan suatu Sistim Inovasi Nasional, yaitu suatu pengaturan kelembagaan yang secara sistemik dan berjangka-panjang dapat mendorong, mendukung, menyebarkan dan menerapkan inovasi-inovasi di berbagai sektor, dan dalam skala nasional.

Konsep seperti ini relatif baru, meskipun sudah mulai diterapkan di beberapa negara yang mengalami transformasi. Setiap negara mempunyai Sistim Inovasi Nasional dengan corak yang berbeda dan khas, yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisinya masing-masing.

Saya berpendapat, di Indonesia, kita juga harus mengembangkan Sistem Inovasi Nasional, yang didasarkan pada suatu kemitraan antara pemerintah, komunitas ilmuwan dan swasta, dan dengan berkolaborasi dengan dunia internasional. Oleh karena itu, berkaitan dengan pandangan ini, dalam waktu dekat saya akan membentuk Komite Inovasi Nasional, yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden, untuk ikut memastikan bahwa Sistem Inovasi Nasional dapat berkembang dan berjalan dengan baik.

Semua ini penting kalau kita sungguh ingin Indonesia menjadi knowledge society.

Kita dikaruniai wilayah yang sangat luas, yang terbentang dari Sabang ke Marauke, dari Miangas ke Pulau Rote. Kita mempunyai sumber daya alam yang berlimpah. Kita memiliki sumberdaya manusia yang tangguh, yang terus dapat ditingkatkan keunggulan dan daya saingnya. Dan kita mempunyai hubungan yang baik dengan semua pihak—baik dunia Barat, dunia Islam, negara-negara berkembang, emerging economies, dan lain-lain—yang semuanya dapat menjadi mitra pembangunan Indonesia.

Karenanya, dengan semua ini, ke depan, Indonesia mempunyai peluang emas untuk memajukan kehidupan bangsa kita. Strategi yang kita tempuh untuk menjadi negara maju, developed country, adalah dengan memadukan pendekatan sumberdaya alam, iptek dan budaya, atau knowledge-based, resource-based and culture-based development.

Kalau visi ini kelak tercapai, bangsa kita akan mengalami transformasi yang fundamental, menjadi bangsa yang maju dan jaya di Abad ke-21. Mari kita songsong era itu dengan kepercayaan sebagai sebuah bangsa yang penuh inovasi. Insya Allah, dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, serta dengan persatuan, kebersamaan dan kerja keras kita, masa gemilang itu akan datang.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Serpong, 20 Januari 2010
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Sumber :
http://www.presidensby.info/

Mengubah Resolusi Layar di Fedora 11

Secara default, setelah selesai instalasi Fedora 11, layar menggunakan resolusi 800x600. Padahal monitor dan kartu VGA-nya bisa untuk resolusi 1280x1024. Jadi sayangkan kalau tidak bisa ditingkatkan resolusinya. Dan secara default, tampaknya Fedora 11 tidak menyertakan tool untuk mengatur display. Biasanya tool display tersebut bisa diakses dari menu System -> Administration -> Display. Bukan dari menu System -> Preferences -> Display.

Jika memang tool mengatur resolusi tidak tersedia di menu Administration, install terlebih dahulu dengan perintah baris :
# yum install system-config-display

Setelah terinstalasi dengan sukses, coba jalankan tool tersebut dengan perintah baris, yaitu :
# system-config-dispaly

Jika berhasil, coba jalankan juga lewat menu System -> Administration -> Display.

Tool ini bisa digunakan untuk mengatur : Resolution, Color Depth, Monitor Type, Video Card, atau Dual Head (dua monitor sekaligus).

Jika pengaturan dari tool ini belum mampu juga merubah resolusi display anda, silahkan jalankan menu satu lagi yaitu :
# gnome-display-properties

Atau bisa juga jalankan lewat menu System -> Preferences -> Display

Hasil perubahan resolusi layar, disimpan di /etc/X11/xorg.conf.

Selamat mencoba.

Sunday, January 17, 2010

Profil Kabinet Indonesia Bersatu II

Dibandingkan dengan format kabinet sebelumnya, komposisi yang tampak dalam Kabinet Indonesia Bersatu Kedua menampakkan pola yang sama. Dari 34 menteri, separuh lebih berasal dari partai politik dan kurang dari separuh lainnya berasal dari profesional-birokrat.

Secara umum, agak sulit melacak gambaran sebuah kabinet profesional yang didasari oleh keberadaan sosok yang dilatarbelakangi kemampuan intelektual visioner sekaligus nyali politikus yang mumpuni. Latar belakang pendidikan para menteri, misalnya, terentang: dari kampus lokal yang "tak terdengar" hingga Harvard University di Boston, Amerika Serikat. Pergeseran posisi menteri pada kementerian yang jauh berbeda dari posisi sebelumnya juga menimbulkan kesan penempatan orang dekat SBY dalam posisi-posisi strategis. Terlebih proses rekrutmen menteri kabinet dilakukan dengan sebuah proses seleksi yang berlapis mirip pejabat birokrasi. Penggunaan tes psikologi, kejiwaan, dan tes kesehatan setelah wawancara boleh jadi merupakan bentuk transparansi kepada publik. Di sisi lain, hasil mengejutkan, seperti gugurnya nama calorl menteri, justru bisa menimbulkan sebuah tanda tanya publik terhadap obyektivitas proses seleksi.

Jika dirunut lebih jauh, wajah kompromi politik makin kentara. Dilihat dari asal daerah, komposisi menteri kabinet putra daerah dari Pulau Sumatera diakomodasi cukup banyak, seperti halnya menteri dari PKS. Ini bisa menjadi upaya mengeliminasi potensi ketegangan politik pasca-"upaya" koalisi dengan PDI-P dan terpilihnya Boediono yang sama-sama berasal dari suku Jawa. Dari sisi usia, tak terlalu tampak ada pergantian generasi yang dominan dalam kabinet baru. Meski demikian, duduknya 5 perempuan dalam kabinet saat ini bisa dipandang sebagai sebuah pengakuan terhadap naiknya daya tawar perempuan dalam kancah tertinggi politik nasional.

Kekuatan politik yang dibangun dari stabilitas dukungan politik parpol tampaknya menjadi sebuah strategi SBY setelah membereskan dukungan di parlemen. Selepas pelantikan kabinet, protes dan gugatan bakal tetap ada, apalagi koalisi besar yang hendak digalang sebelumnya tak sepenuhnya berhasil. Namun, gerbong kereta Indonesia harus berjalan, betapapun berat gerbong dan sulit jalannya. Selamat bekerja para menteri kabinet!

Latar Belakang Pendidikan :
Univ. Indonesia (8) : Dr. Sri Mulyani Indrawati (S1 Ekonomi); Dr. Darwin Zahedy Saleh, SE., MBA (S1 Ekonomi); Drs. H. Suryadharma Ali, MSi (S2 Ilmu Sosial); Drs. H. Abdul Muhaimin Iskandar, MSi. (S2 Ilmu Komunikasi); Ir. A. Helmy Faisal Zaini (S2 Ilmu Politik); Ir. Jero Wacik, SE (S1 Ekonomi); Drs. Suharna Surapranata, MT (S1 Fisika); Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, SE, MA. (S1 Ekonomi)
ITB (7): Ir. M. Hatta Rajasa (S1 T. Minyak, S2 Studi Pembangunan); Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., MA. (S1); Dr. Ir. Fadel Muhammad (S1 T. Fisika); Ir. Jero Wacik (S1 T. Mesin), SE; Drs. Suharna Surapranata, MT (S2 T. Fisika); Ir. Suharso Monoarfa, MA (S1 Planologi); Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto (S1 T. Industri)
Akabri (5) : Mars. Joko Suyanto, S.IP (TNI-AU); Laksda. Fredy Numberi (TNI-AL); Jend. Drs. Sutanto (POLRI); Letjen. Sudi Silalahi (TNI-AD); Letjen. Evert Erenst Mangindaan (TNI-AD)
Univ. Gajah Mada Yogyakarta (5) : Dr. Ir. Fadel Muhammad (S3 Adm. Negara); Drs. H. Abdul Muhaimin Iskandar, MSi. (S1 Fisip); Ir. Joko Kirmanto, Dipl, HE; (S1 F. Teknik) Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta (S2); Dr. Andi A. Mallarangeng (S1 Sosiologi)
Univ. Terbuka (3) : Mars. Joko Suyanto (S1 Ilmu Sospol), S.IP; Linda Amalia Sari, SIP (S1 Ilmu Politik); Letjen. Evert Erenst Mangindaan (S1 Ilmu Sosial)
IPB (2) : Ir. H. Suswono, MMA (S1 Peternakan, S2 Agribisnis); Dr. Ir. Mustafa Abubakar (S1 Peternakan, S2, S3)
Univ. Krisnadwipayana Jakarta (2) : Zulkifli Hasan, SE, MM. (S1 Ekonomi); Syarifuddin Hasan, SE, MM, MBA (S1 dan S2 Ekonomi)
IAIN Jakarta (1) : Drs. H. Suryadharma Ali, MSi (S1);
IAIN Yogyakarta (1) : Drs. H. Abdul Muhaimin Iskandar, MSi. (S1 Syariah)
STIK Jakarta (1) : Ir. H. Tifatul Sembiring (S1)
STM PPM (1) : Zulkifli Hasan, SE, MM. (S2)
ITS (1) : Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh (S1 T. Elektro)
Univ. Andalas Padang (1) : Drs. Gamawan Fauzi, SH. MM. (S1 Hukum Tata Negara)
Univ. Darul Ulum Jombang (1) : Ir. A. Helmy Faisal Zaini (S1 Teknik)
Univ. Kristen Indonesia Jakarta (1) : dr. H. R. Agung Laksono (S1 Kedokteran)
Univ. Muhammadiyah Jakarta (1) : Patrialis Akbar, SH. (S1 Hukum)
Univ. Negeri Padang (1) : Drs. Gamawan Fauzi, SH. MM. (S2 Kebijakan Publik)
Univ. Pajajaran Bandung (1) : Ir. Moh. S. Hidayat, SE (S1 Ekonomi);
Univ. YAI Jakarta (1) : Syarifuddin Hasan, SE, MM, MBA (S3 Ekonomi)
Univ. Lambung Mangkurat Banjarmasin (1) : Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta (S1 Kehutanan)

Luar Negeri :
Amerika Serikat (10) : Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., MA. (S2 Pertambangan, S3 Ekonomi SDA, Colorado); Dr. Sri Mulyani Indrawati (S2 dan S3 Ekonomi, Illiois); Dr. Darwin Zahedy Saleh, SE., MBA (S2, Tennese); Dr. Mari Elka Pangestu (S3 Ekonomi, California); Dr. dr. Endang Rahayu Sedyaningsih (S2 dan S3 Public Health, Harvard); Syarifuddin Hasan, SE, MM, MBA. (S2, California); Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, SE, MA. (S2 Ekonomi, Illiois, S3 Ekonomi, Washington); Dr. Andi A. Mallarangeng (S2 dan S3 Ilmu Politik, Illinois); Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto (S2 Industrial Eng, S3 Civil Eng., Stanford); Gita Irawan Wirjawan, MBA, MPA (S1 Bisnis, Texas, S2 Adm. Publik, Harvard))
Australia (3) : Dr. R.M. Marty Natalegawa, M.Phil, B.Sc. (S3); Dr. Mari Elka Pangestu (S1 dan S2 Ekonomi, ANU); Ir. Suharso Monoarfa, MA (S3 Curtin)
Belanda (2) : Ir. Joko Kirmanto, Dipl, HE. (TU Delft); Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta (S3 Silvikultur, Wageningen)
Arab Saudi (1) : Dr. H. Salim Segaf Al'Jufrie, MA. (S1, S2, S3 Syariah, Madinah)
Inggris (1) : Dr. R.M. Marty Natalegawa, M.Phil, B.Sc. (S1 dan S2 Int'l Rel., Cambridge)
Perancis (1) : Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh (S2 dan S3 Signaux System, Montpellier)


Latar Belakang/Afiliasi Politik :
Profesional (16) : Mars. Joko Suyanto, S.IP; Letjen. Sudi Silalahi; Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., MA.; Dr. R.M. Marty Natalegawa, M.Phil, B.Sc.; Dr. Sri Mulyani Indrawati; Dr. Mari Elka Pangestu; Ir. Joko Kirmanto, Dipl, HE; Dr. dr. Endang Rahayu Sedyaningsih; Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh; Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta; Linda Amalia Sari, SIP; Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, SE, MA; Dr. Ir. Mustafa Abubakar; Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto; Jend. Drs. Sutanto; Gita Irawan Wirjawan, MBA, MPA
Demokrat (7) : Drs. Gamawan Fauzi, SH. MM.; Laksda. Fredy Numberi; Dr. Darwin Zahedy Saleh, SE., MBA; Ir. Jero Wacik, SE; Syarifuddin Hasan, SE, MM, MBA, Letjen. Evert Erenst Mangindaan; Dr. Andi A. Mallarangeng
PKS (4) : Ir. H. Suswono, MMA; Dr. H. Salim Segaf Al'Jufrie, MA; Ir. H. Tifatul Sembiring; Drs. Suharna Surapranata, MT
Golkar (3) : dr. H. R. Agung Laksono; Ir. Moh. S. Hidayat, SE; Dr. Ir. Fadel Muhammad
PAN (3) : Ir. M. Hatta Rajasa; Zulkifli Hasan, SE, MM.; Patrialis Akbar, SH.
PPP (2) : Drs. H. Suryadharma Ali, MSi; Ir. Suharso Monoarfa, MA
PKB (2) : Drs. H. Abdul Muhaimin Iskandar, MSi.; Ir. A. Helmy Faisal Zaini

Tanah Kelahiran :
Jawa (20) : Mars. Joko Suyanto, S.IP (Madiun); dr. H. R. Agung Laksono (Semarang); Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., MA. (Semarang); Dr. R.M. Marty Natalegawa, M.Phil, B.Sc. (Bandung); Drs. Suharna Surapranata, MT (Bandung); Linda Amalia Sari, SIP (Bandung); Ir. Moh. S. Hidayat, SE (Jombang); Drs. H. Abdul Muhaimin Iskandar, MSi. (Jombang); Ir. H. Suswono, MMA (Tegal); Dr. Mari Elka Pangestu (Jakarta); Drs. H. Suryadharma Ali, MSi (Jakarta); Dr. dr. Endang Rahayu Sedyaningsih (Jakarta); Gita Irawan Wirjawan, MBA, MPA (Jakarta); Dr. H. Salim Segaf Al'Jufrie, MA (Solo); Letjen. Evert Erenst Mangindaan (Solo); Ir. Joko Kirmanto, Dipl, HE (Boyolali); Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh (Surabaya); Ir. A. Helmy Faisal Zaini (Cirebon); Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto (Purwokerto); Jend. Drs. Sutanto (Pekalongan);
Sumatra (9) : Ir. M. Hatta Rajasa (Palembang); Letjen. Sudi Silalahi (Pematang Siantar); Drs. Gamawan Fauzi, SH. MM. (Solok); Zulkifli Hasan, SE, MM. (Lampung); Patrialis Akbar, SH. (Padang); Dr. Sri Mulyani Indrawati (Bandar Lampung); Dr. Darwin Zahedy Saleh, SE., MBA. (Indragiri Hilir); Ir. H. Tifatul Sembiring (Bukittinggi); Dr. Ir. Mustafa Abubakar (Pidie)
Sulawesi (2) : Syarifuddin Hasan, SE, MM, MBA. (Palopo); Dr. Andi A. Mallarangeng (Makassar)
Papua (1) : Laksda. Fredy Numberi (Yapen Waropen)
Ternate (1) : Dr. Ir. Fadel Muhammad (Ternate)
Bali (1) : Ir. Jero Wacik, SE
Kalimantan (1) : Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta (Banjarmasin)
Lombok (1) : Ir. Suharso Monoarfa, MA (Mataram)

Tahun Kelahiran :
1943 : Letjen. Evert Erenst Mangindaan; Ir. Joko Kirmanto, Dipl, HE
1944 : Ir. Moh. S. Hidayat, SE.
1946 : Syarifuddin Hasan, SE, MM, MBA
1947 : Dr. Ir. Kuntoro Mangkusubroto; Laksda. Fredy Numberi
1949 : Ir. Jero Wacik, SE; Dr. Ir. Mustafa Abubakar; dr. H. R. Agung Laksono; Letjen. Sudi Silalahi
1950 : Jend. Drs. Sutanto; Mars. Joko Suyanto, S.IP
1951 : Linda Amalia Sari, SIP; Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., MA.
1952 : Prof. Dr. Ir. Gusti Muhammad Hatta; Dr. Ir. Fadel Muhammad
1953 : Ir. M. Hatta Rajasa
1954 : Ir. Suharso Monoarfa, MA; Dr. H. Salim Segaf Al'Jufrie, MA
1955 : Dr. dr. Endang Rahayu Sedyaningsih; Drs. Suharna Surapranata, MT
1956 : Drs. H. Suryadharma Ali, Dr. Mari Elka Pangestu
1957 : Drs. Gamawan Fauzi, SH. MM.
1958 : Patrialis Akbar, SH.
1959 : Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh; Ir. H. Suswono, MMA
1960 : Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, SE, MA.; Dr. Darwin Zahedy Saleh, SE., MBA
1961 : Ir. H. Tifatul Sembiring
1962 : Zulkifli Hasan, SE, MM.; Dr. Sri Mulyani Indrawati
1963 : Dr. Andi A. Malarangeng; Dr. R.M. Marty Natalegawa, M.Phil, B.Sc.
1965 : Gita Irawan Wirjawan, MBA, MPA
1966 : Drs. H. Abdul Muhaimin Iskandar, MSi.
1972 : Ir. A. Helmy Faisal Zaini

Wanita : Dr. Mari Elka Pangestu; Dr. Sri Mulyani Indrawati; Dr. dr. Endang Rahayu Sedyaningsih; Linda Amalia Sari, SIP; Prof. Dr. Armida S. Alisjahbana, SE, MA.

Sumber : Harian Umum Kompas, Kamis, 22 Oktober 2009. Halaman 4.

Tak ada maksud untuk menonjolkan SARA dan primordial atau sebuah chauvinisme.