Friday, September 21, 2012

Merakyat?

Begitu mudahnya mengatakan merakyat, namun lupa ada konsekuensi yang mengikutinya. Bagaimana mungkin mengatakan merakyat, jika nginep saja maunya di hotel berbintang. Atau makan maunya di resto, atau kesana-kemari musti dianter. Jauh sedikit sudah pusing kalau nggak dapet penerbangan. Jengah kalo harus naik moda transportasi massal kelas orang awam. Saya rasa kata "merakyat" akhirnya hanyalah menjadi lips service belaka. Namun demikian saya yakin, ybs tidak mau dibilang seperti itu. Ia pasti punya seribu satu penjelasan.

Dari pada repot-repot ngomong "merakyat", mendingan tidak usah diucapkan saja. Biarkan saja orang yang menilai. Terserah mereka mau menilai apa.

Saya ingat cerita wacana (percakapan) antara murid dan gurunya. Kata guru: "Andi, coba kamu bercerita tentang orang miskin". Andi adalah anak seorang yang the have. Ia kemudian bercerita tentang orang miskin. "Aku anak miskin, pembantu-pembantu ku miskin, tukang kebun ku miskin, pengasuh ku miskin, supir ku miskin, ..."


No comments:

Post a Comment