Sunday, July 19, 2009

Arung Jeram Citarik

Sebenarnya aku dah lama sekali memimpikan untuk bisa menikmati arung jeram (Rafting) di sungai Citarik. Namun sangat sulit merealisasikannya. Betapa tidak. Untuk ikut arung jeram, kita musti melakukannya dalam grup, gak bisa individual. Sementara untuk mengajak temen-temen sangatlah sulit. Mereka rata-rata berat untuk mengeluarkan uang untuk itu. Mungkin karena gak hobi juga. Kalau hobi, pasti berapapun mau dikeluarkan.

Dulu (bertahun-tahun yang lalu), aku pernah lewat dan sempat nanya-nanya di Arus Liar, salah satu operator arung jeram di sungai Citarik. Kalau gak salah waktu itu tarif per orang adalah 185rb (sekarang juga masih segitu). Dan tentunya harus dalam grup, dan harus booking dulu. Bisa aja ikut sendiri, itupun kalau pas rame. Kita akan diikutkan dalam perahunya tim rescue, tapi gak janji deh. Kita juga bisa nginep di saung milik Arus Liar yang bermandikan obor dan lampu minyak, jadi gak pake listrik. Aku pikir eksotik juga ya suasananya. Di malam gelap gulita sambil dengerin gemericik air sungai.

Ketertarikanku terhadap arung jeram ini terjadi begitu saja. Saat iku sedang jalan-jalan ke Solo dan kemudian sempat mampir ke taman wisata di Magelang, aku lupa namanya. Untung ada Om Google, ternyata namanya Taman Kyai Langgeng (TKL) di kota Magelang. Namun untuk nama operatornya, aku belum menemukannya. Kalau gak salah ia menggunakan sungai Progo.

Waktu itu kami berempat, namun yang akhirnya jadi ikut arung jeram hanya bertiga saja. Temenku yang satu lagi bener-bener gak berani, trauma katanya, meskipun aku janji untuk aku bayarin penuh, kalau gak salah dulu 90rb atau US$ 45. Yang satu lagi mau namun aku musti iming-imingi dulu bayarin separo. Kalau yang satu lagi bersedia bayar sendiri. Akhirnya kami hanya bertiga saja. Agar lengkap, kami ditemani oleh 2 pemandu dan scoping. Dan ditemani lagi dengan satu perahu untuk rescue.

Inilah awal aku merasakan arung jeram. Ada hikmah yang dapat aku rasakan dari arung jeram. Dalam arung jeram, tidak selamanya kita akan aman ikut arus air. Bisa saja arus air kan membawa kita masuk dalam palung di tepi sungai yang bisa merenggut nyawa. Hal ini terjadi beberapa sebelumnya (saya tahu setelah selesai mengarungi dan dikasih tahu oleh pemandu). Kita harus tahu kapan mendayung dan tidak mendayung, mendayung kiri, mendayung kanan, mendayung ke depan, mendayung ke belakang, pindah kiri, pindah kanan. Ini semua atas komando si pemandu. Jangan sekali-sekali mengambil inisiatif. Karena bisa saja inisiatif kita kontra produktif dengan keinginan si pemandu.

Kalau kita ingin belok kanan, maka yang dilakukan adalah dayung kiri atau mendayung oleh awak sebelah kiri saja. Namun di lain waktu mendayung kiri juga bisa mengakibatkan perahu berbelok atau berputar ke kiri juga. Kalau di sebelah kiri ada bahaya, tentunya ini akan sangat membahayakan. Jadi sekali lagi, kita gak perlu melakukan inisiatif berdasakan logika. Biarkan si pemandu yang mengomando kita. Awak ikut saja. Dan yang terpenting, jangan sekali-sekali menganggap remeh alam dan menodai alam. Karena bisa membuat kita salah perhitungan dan menimbulkan celaka.

Dari pengalaman di Kali Progo tersebut, akhirnya aku jadi suka dengan arung jeram. Dua kali sudah aku ikut. Pertama menggabungkan diri dengan kegiatan Mapala Universitas Gunadarma di Kali Cisadane. Dan kedua dengan Mapala UI di Kali Leuwiliang. Setiap kali punya karakteristik sendiri-sendiri. Aku ikut kedua arung jeram ini lewat informasi yang ada diposter. Jadi, setiap kali aku ke kampus UI atau UG atau manapun, yang aku perhatiin adalah ada atau tidak poster arung jeram. He he he

Beberapa minggu yang lalu, di kantorku ada poster arung jeram. Dan sempat aku kabari temen-temen, apakah ada yang mau ikut. Ternyata harga 350rb membuat pada mundur. Aku juga sih, lumayan kan 350rb. Akhirnya kesempatan untuk arung jeram di Citarik hilang begitu saja. Ikut orang 350rb, ngajak teman gak ada yang berani. Susah juga, tapi gak apalah.

Saat aku jalan pulang dari Warso Farm di Bogor (18 Juli 2009), aku coba melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Ratu. Toh gak jauh-jauh amat Pelabuhan Ratu itu, pikirku. Mudah-mudahan besok pagi masih bisa balik pulang dan mampir di Tj. Priok untuk reuni akbar dengan temen-temen di Komplek ARHANUD. Di sekitar Cibadak ada jalan alternatif ke Pelabuhan Ratu, yaitu lewat Cikidang. Rutenya sangat bagus, kanan kiri penuh ditumbuhi berbagai jenis perkebunan. Tampaknya jalannya juga masih baru selesai di hotmix. Sesekali ketemu touring sepeda motor. Kanan-kiri ada kebun kelapa sawit, teh, pinus, sawah terasering, kebun, dll. Namun anakku tertarik dengan satu billboard yaitu Caldera. Di sepanjang jalan, billboard Caldera selalu ada, mungkin pada setiap jarak tertentu. Dari pertigaan Cibadak sekitar 25 km ke kawasan Caldera.

Ketika melewati kawasan Caldera, aku melihat banyak orang yang baru keluar dari sana. Ini membuat aku bertanya-tanya, ada apa ya di dalam sana. Aku coba membelokkan diri ke arah Arus Liar. Rupanya Arus Liar dan Caldera berdekatan letaknya lho. Sesampainya di sana, kita lihat-lihat orang yang sedang ikut arung jeram. Liat-liat doang lho. Iseng-iseng aku tanya Utomo, "berani gak dek". Karena berani, aku minta Istri nanya ke receptionist di atas dan ternyata sudah full book. Setelah dikasih tahu oleh orang yang ada di situ, aku nyoba tanya ke sebelah Arus Liar yaitu ke Caldera. Ternyata setelah nego, masih bisa ikut meskipun harisudah menjelang sore atau sekitar jam 3 sore.

Aku sempat mikir juga, 4 x 165rb = 730rb dong, wah lumayan juga nih. Kalau aku ikut kantor cuma 350rb. Tapi, ya sudahlah. Toh sekarang aku bisa ngajak sekeluarga. Karena uangku tinggal 450rb, aku pinjem dulu ke Diana. Dan terkumpullah uang 750rb. Jadi deh ikut arung jeram di Citarik. Sebenarnya ada beberapa jenis paket arung jeram, dilihat dari jarak dan waktu yang ditempuh. Yang paling enak, kayaknya, adalah paket 250rb, karena finish-nya di Pelabuhan Ratu dan butuh waktu 5 jam-an. Mantap nih kalau bisa ikut paket ini. Yang repot adalah cari temen yang sehobi.

Kami dibagi menjadi dua perahu, tadinya aku pikir bisa satu perahu. Alasan pemandu adalah debit air sungai yang kecil sehingga perahu bisa kandas di antara bebatuan. Aku dengan Utomo dan Istri dengan Diana. Di tengah rute perjalanana ada kesempatan untuk istirahat di tepi kali dan ini kami gunakan untuk berenang kesana kemari. Setelah puas berenang, arung jeram dilanjutkan. Sepanjang kali ada beberapa jeram kelas 3 yang aku ingat, ada jeram TVRI, Bali,Walk Away, Zig-Zag, entah apa lagi. Kalau mau lebih enak dan bisa satu perahu, pemandu menyarankan pada bulan-bulan penghujan, misal september, oktober, nopember dan desember.

Sepanjang perjalanan, kami mendayung atas komando pemandu. Dayung maju, dayung mundur, pindah kiri, pindah kanan, dst. Karena kita pake alat-alat keselamatan dan Caldera sudah lulus uji keselamatan, rasanya gak ada alasan untuk takut. Tentunya selama kita ikut aturan main dan patuh dengan komando pemandu. Gak bisa berenangpun gak menjadi kendala.

Sesampai di finish, kami disuguhi kelapa muda. Dagingnya lembut banget. Untuk kembali ke base camp, sudah disediakan angkutan termasuk untuk membawa perahu karet, peralatan danpemandunya. Dan di base camp kami sudah disediakan makan komplit, ternyata. Sampai-sampai kita gak bisa ngabisin. Oh ya, saat yang sama aku juga lihat ada kelompok lain yaitu dari detik.com yang sedang menginap di Caldera. Dan masih banyak kelompok-kelompok lain yang nginep. Seandainya kantor bisa memfasilitasi arung jeram ya....

Tadinya kami mau nginep di Caldera karena tarifnya hanya 160rb. Ternyata 160rb tersebut hitungan per orang bukan per kamar. Lumayan juga nih, pikirku. Lebih baik nginep di Pelabuhan Ratu aja deh, kan ada yang 100rb-an. Keluar dari Caldera sekitar jam 7 malem untuk kemudian melanjutkan ke Pelabuhan Ratu. Ternyata gak jauh dari lokasi Caldera dan Arus Liar ada satu operator lagi yaitu Kaki Langit.

Dulu Caldera itu namanya BJ's yaitu sebuah operator yang didirikan oleh pendiri Sobek di Bali. Entah kenapa akhirnya BJ's hilang dan menjadi Caldera. Dan kayaknya usaha ini maju pesat apalagi kalau dilihat nilai investasi yang sudah ditanam di lokasi ini. Tampaknya jenis usaha yang serius. Harga 165rb per orang aku pikir wajar-wajar saja, karena masalah keselamatan memang gak murah.

Arus Liar : www.arusliar.co.id atau 0812-80-700-700
Caldera : www.calderaindonesia.com atau (021) 390-1575
Kaki Langit : www.kakilangit.org atau (021) 782-7623

Koordinat pertigaan Cikidang :
S 060 52. 667'
E 1060 46.557'
Jarak dari perempatan Ciawi ke pertigaan Cikidang ini sekitar 31 km (menggunakan Odometer mobil). Jika perempatan Ciawi dianggap km 0, maka Cimande = km 5, Cigombong = km 12, Cicurug = km 18, Pertigaan Cidahu = km 20, Bojongkokosan = km 24, pertigaan Parungkuda = km 27, pertigaan Cikidang = km 31. Pertigaan Cikidang ini masuk Desa Pamuruyan, Kec. Cibadak, Kab. Sukabumi.

Dengan Garmin GPS, koordinat lokasi Arus Liar :
S 060 54.902'
E 1060 36.722'
Jarak dari Pertigaan Cikidang ke Arus Liar sekitar 25 km (kalau di billboard tertulis 20 km). Tidak ada persimpangan sepanjang jalur ini. Jadi tidaklah sulit menemukan lokasi arung jeram. Hanya saja jalannya menurun, menanjak dan berliku. Sehingga kecepatan rata-rata hanya 30 - 40 km/jam saja. Jalan sudah di-hotmix (lebar 5 meter) sejak 2003 (kata warga) dan dapat digunakan sebagai jalur alternatif menuju Pelabuhanratu. Sepanjang jalur ini yang ada hanya perkebunan teh, karet, dan kelapa sawit. Bagi yang suka panorama, sangat disayangkan jika harus ngebut.

Untuk pulang ke arah Ciawi dari Cikidang, dapat melalui jalan lain, yaitu rute Cikidang - pertigaan Parungkuda - Kalapanunggal - Pakuwon - Parakansalak - Pondoktengah - pertigaan Cidahu - kembali ke jalur utama Bogor - Sukabumi. Jika lokasi arung jeram dianggap km 0, maka pertigaan Parungkuda (ke arah PLTP Gunung Salak) = km 12, pertigaan Kalapanunggal (ada kantor Telkom) = km 18, pertigaan Pakuwon = km 31, Parakansalak = km 37, Pondoktengah = km 41, pertigaan Cidahu = km 45. Sepanjang jalur ini, kerusakan jalan tidaklah signifikan, hanya dalam orde puluhan meter saja.

Jika dibandingkan
  1. Jalur pertigaan Cidahu - pertigaan Cikidang - Cikidang = 36 km
  2. Jalur Cikidang - pertigaan Parungkuda - pertigaan Cidahu = 45 km.
Meskipun relatif lebih jauh, jalur #2 tidak akan menemui kemacetan. Sayangnya adalah setiap pertigaan tidak diberi nama, sehingga dikhawatirkan setiap orang akan memberi nama sesukanya. Misal pertigaan Parungkuda bisa ada dua tempat atau lebih. Pertigaan Parungkuda yang pertama adalah pertigaan yang berada pada jalur utama Bogor - Sukabumi. Pertigaan Parungkuda yang kedua adalah pertigaan yang berada pada jalur Cikidang.

Saat datang ke Caldera untuk kedua kalinya, arus air sedang 120 cm, padahal idealnya adalah 80 cm. Sehingga paket pengarungan 10 km diubah menjadi 5 km dengan start agak ke hulu sungai atau 5 km ke arah hulu sungai. Sehingga finish bisa di kantor operator.

Tks tuk Pemanduku Lalan dan Sholeh dan tentunya Caldera Rafting yang telah memberi kami kesempatan.

Foto-foto : klik di sini atau klik disini

No comments:

Post a Comment